November 25, 2017

Justice League - Superheroes are Human, too...



The first thing I have to remind myself when I decided to watch this film is, "Please, Janet... Jangan ngebanding-bandingin. Please!"

Tapi syusaaahhh...

Sebagai fans hardcore Marvel Comic, kok sulit rasanya untuk tidak membanding-bandingkan superheroes kesayangan lo dengan yang ada di DC Comics. So, maaf sebesar-besarnya kepada penggemar DC di seluruh jagad raya ini. I still do love Iron Man and his boyband rather than this one.

Justice League adalah kelompok superhero yang dibentuk oleh DC Comic (Yaah, semacam Avengers di Marvel) yang terdiri dari Superman aka Clark Kent aka Kal-El, Batman aka Bruce Wayne, Wonder Woman aka Diana Prince, Aquaman aka Arthur Curry, Flash - Barry Allen, dan seharusnya ada Green Lantern. Gue nggak tahu mengapa Green Lantern tidak ditampilkan di versi live action-nya ini, tapi kemungkinan karena Ryan Reynolds yang memainkan tokoh itu terikat kontrak sebagai Deadpool di Marvel. So, here comes Cyborg aka Victor Stone to replace him. Setahu gue, yang pengetahuan tentang komik DC amat minim, Justice League ini dikenal juga sebagai Justice League of America.



So, here's the synopsis. Watch out! Spoilers alert!

Melanjutkan kisah dari Batman vs Superman - Dawn of Justice, pasca kematian Superman, dunia semacam berduka. Manusia kehilangan sosok pahlawan kemanusiaan yang selalu siap sedia menolong mereka tanpa pamrih dari kejahatan. Termasuk juga Lois Lane yang harus berjuang melawan rasa dukanya kehilangan Clark Kent. (I feel you, Ms Lane.. #JanetBaper)

Selain itu, dunia kembali diserang oleh makhluk aneh semacam serangga terbang yang berwajah macam vampire bernama Parademons. Makhluk ini ternyata datang bersama Steppenwolf yang sedang mencari tiga buah kotak yang disebut mother of boxes (karena diterjemahkan menjadi kotak ibu membuat gue terbayang ibu di Pengabdi Setan. Hiiyy!) Kotak pertama ada di Themyscira, kotak kedua ada di Atlantis, dan tinggal yang ketiga ada di Star Lab yang dipimpin oleh ayah Victor Stone.

Yesshh, bumi jadi rentan diserang makhluk asing. Manusia mulai seperti kehilangan rasa aman. Bruce Wayne yang merasa bersalah akibat kesalahpahaman nya dengan Superman (You may watch BvS again to really know about it), memiliki ide untuk mengumpulkan para manusia super untuk kembali menegakkan keadilan di dunia ini.

and yes, They Can't Save The World Alone, like the tagline said. Kalau boleh nambahin, gue pingin banget nambahin jadi 'They Can't Save The World Alone, Without Superman'

Serius!
Jadi menurut gue, kalau Superman nggak dihidupkan lagi di film ini, mungkin mereka gagal menyelamatkan dunia. Yes, BIG SPOILER! SUPERMAN HIDUP LAGI, SODARA-SODARA!!
Kita kaum hawa kembali bisa melihat si ganteng Superman lagi.

Tapi komen gue waktu dia hidup, "Ishh! Superman dangdut!"

Superhero yang langsung luluh begitu melihat Lois Lane. Nggak seru deh bagian situnya. Penasaran? Lo nonton aja lah!

Menurut gue, Zack Synder nggak terlalu berhasil meninggalkan kesan mendalam buat penonton atas Justice League. Gimana ya? Doi berhasil menyajikan gambar yang bagus. Sisi drama dari para superhero yang ternyata humanis banget. Serius. Lo bisa melihat bahwa Batman sebenarnya bukan apa-apa tanpa alat-alat dan kekayaannya itu. Untung dia nggak nyalonin diri jadi presiden Amerika... Lalu bagaimana Superman yang kisah cintanya dangdut banget itu. Hubungan Barry Allen dan ayahnya yang dipenjara. Bahkan kisah cinta seorang ayah terhadap anaknya dari hubungan Victor Stone yang dihidupkan bapaknya dengan salah satu mother boxes. Cuma gregetnya kurang banget.

I do really love the background story of Aquaman. Itu sih selera pribadi aja. Karena gue demen baca cerita yang ada hubungannya sama mitologi. Wonder Woman with Themyscira dan suku amazonnya, serta fakta dia anak Zeus. Now, Aquaman with his Atlantis. Sama kayak gue demen Thor dan segala isi Asgardian.

Dan Ezra Miller berhasil membawa komedi segar dengan penampilannya sebagai Flash yang polos dan konyol. But it reminds me of Spiderman di Spiderman-Homecoming. Muda, jenaka, dan superhero. Belum lagi chemistry Barry Allen dan Bruce Wayne juga mengingatkan gue dengan Peter Parker dan Tony Stark. Bedanya Bruce Wayne agak serius, Tony Stark susah serius. Tapi kan doi berdua orang kaya. Susah deh nggak nyama-nyamain. Once again, forgive me Dear DC Lovers! But I do love Ben Affleck. Ganteng bokkk si bapak...

Oh iya, di film ini lo bisa lihat body yahud-nya Jason Momoa, Ben Affleck (Yaaah, walau dalam kostum Batman), dan dada berbulu plus perut kotaknya Henry Cavill. Hati Dinda langsung lemah lembek kayak agar-agar gitu tadi melihatnya... (Yes, anda boleh kok muntah)

Still, Si Gal Gadot cantik banget. Heran gue... Bisa cantik gitu...

Balik lagi ke film-nya, selain fakta di atas, sisanya B ajah! Adegan action-nya nggak terlalu kerasa. Gue bahkan agak sempat ngantuk di tengah film.

Salah satu kesalahan film ini, menurut gue sih ya, kenapa doi harus tayang setelah Thor-Ragnarok dan sebelum Star Wars - The Last Jedi. Walau katanya Star Wars ini banyak kemungkinan mengecewakan, tapi still fandom-nya Star Wars gila-gilaan. Jadinya Justice League ini nggak hype gitu. Padahal dari segi pemain, mereka menjual, terkenal, dan bukan aktor ecek-ecek.

So, what happened with DC? Harus ganti strategi. Walaupun menggadang Warner Bros, masih aja kalah dari Thor.

Tapi nggak jelek kok sebenarnya film ini. Cuma ya biasa aja, menurut gue. Jadi kalau menurut gue, from 5 stars, I give 3 stars.

Penasaran? You may check the trailer below..


Happy watching!


November 19, 2017

When Words is The Only Left


The words in this picture describe what I am feeling right now.

Before he left me, I didn't know about real loss. Some people came, then go. Born, then die. That's life. Everyone knows.

Semua manusia yang lahir, suatu saat akan kembali pada pencipta-Nya. Sudah begitu aturannya. Gue paham. Gue menyadari. Gue yakin gue akan mengerti saat gue kehilangan seseorang yang gue cintai. Pemikiran dan perasaan ini gue siapkan untuk menghadapi kehilangan orang terdekat gue, dalam kasus gue adalah keluarga gue. My mom and dad getting old, days by days... One day they leave me, I am ready. Or maybe, me who gonna leave them first. No one knows. But I prepare myself for losing someone precious and I loved so much.

I never thought that losing him will hurt me this much.

Hanya dalam waktu 2 tahun mengenal dia, kurang lebih satu tahun setengah menjadi lebih dari sekadar saudara dan sahabat, gue nggak pernah menyangka bahwa kepergian dia seperti meruntuhkan tulang belulang gue dari dalam.

I start to realize, I love you that much, Bang...

Gue belum pernah mencintai lelaki lain sedalam ini, dan bodohnya, baru gue sadari saat-saat ini. Bahkan dalam hubungan gue sebelumnya, gue pikir gue susah move on gara-gara gue cinta berat sama laki-laki itu. Ternyata bukan karena cinta, melainkan sakit hati mendalam karena pahit diselingkuhi, yang bikin gue susah move on.

Tetapi dengan lelaki ini, gue ternyata pakai perasaan banget. Tulus. Nggak main-main.

For many times I said, gue tipe perempuan yang susah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, gue jatuh sedemikian dalam. Bukan gue jual mahal, tapi lebih kepada perasaan insecure disakiti yang membuat gue seperti menjaga diri dari yang namanya jatuh cinta. Gue nggak berani mencintai seseorang di luar keluarga gue, lebih daripada gue mencintai diri gue sendiri.

And Dear Tigor, with you I dared myself to love someone more than I love myself.

Perasaan kehilangan ini seperti berusaha membunuh gue perlahan dari dalam. Gue nggak bisa teriak. Nggak sanggup menangis meraung-raung. Nggak sanggup lagi bicara. Nggak sanggup menghilangkan perih pedih yang masih berdebur di dada gue.
Sampai suatu malam gue bertanya pada Tuhan dalam doa gue.

"Sekuat apa aku, Tuhan? Sampai Kau percayakan hal ini terjadi padaku. Sekuat apa aku, Tuhan? Sampai cobaan ini menguji aku."

Menghitung setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun yang pasti akan berlalu, sekarang gue menantang diri gue sendiri untuk berani berharap penuh pada Tuhan Yesus. Kalau sebelum ini gue berani mencintai seseorang lebih dari gue mencintai diri gue, sekarang gue mencoba berani berharap lebih pada sosok Pencipta yang memiliki kehidupan ini.

Kehilanganmu seperti perlahan membunuhku. Tetapi aku mau tetap kuat sampai akhir, sampai suatu saat kita ketemu lagi.

With love,
Janet.

November 10, 2017

100% Minus

These past days are kinda hard for me.

It's a month, he's gone from my life. I miss him but nothing I can't do. This feeling is kinda killing me. I was crying hard but I know inside that it's giving me no solution. Even I'm crying out loud, he won't ever be alive anymore.

Kehilangan itu berat. Sungguh.

No one ever said, ditinggalkan itu bukan masalah berat. Sungguh gue nggak pernah mengira kalau dia akan meninggalkan gue selamanya. Memang sih pernah dua kali gue mimpi nggak enak. Pertama waktu Lebaran kemarin dia pulang kampung, gue seperti ada feeling kalau dia nggak akan balik lagi. Tapi toh ternyata dia pulang lagi. Kedua, waktu sakit nefrotik-nya mau kambuh, gue sempat bermimpi kalau dia akan sakit keras. I even cried hard in my sleeping at that time.

But still, I never thought that he gonna left me in the next few months.

Bagian tersulit untuk gue adalah menghilangkan gambaran detik kepergian dia pagi itu. Suara mesin alat bantu nafas yang masih seperti menggema dia telinga gue. Darahnya yang mengalir dari hidung dan ujung bibirnya. Lengan dan pergelangan kakinya yang diikat. Matanya yang terpejam dan ternyata tak pernah terbuka. Dan layar denyut nadinya yang berganti dari 130 sampai akhirnya berubah menjadi 0.

I still can't believe that he left me. He left me with 100% love for him. He left me with all his dream and mine. He left me with the broken heart. He left me and my world seems like parting into pieces.

Sebisa mungkin gue menahan diri untuk tidak memohon pada Tuhan agar mengajak gue serta. Gue sepenuhnya menyadari bahwa memang ini yang terbaik buat dia. Nggak akan lagi ada kekhawatiran kalau dia sakit. Nggak akan ada lagi pembicaraan mengenai kekhawatiran tidak punya uang. Tuhan menyayangi dia lebih dari gue ataupun keluarganya. Apalah daya kita manusia? Toh, suatu saat pun kita akan pulang ke tempat yang sama. Apalah yang mampu kita lakukan? Tak ada yang dapat melawan kuasa si pemilik dunia ini.

Di sinilah gue diajar untuk belajar ikhlas.

Then, I remembered once he ever asked me, "Kamu cinta sama aku berapa persen?"

Gue bukan tipe cewek super romantis yang bakal jawab pertanyaan cinta-cintaan dengan gamblang dan percaya diri. Ditambah saat itu wajah dia senyum-senyum ngejek dan menyebalkan. Makin-makinlah gue ogah menjawab.

But now I tell you all the truth. I love him 100%.

I'm a type of girl who hard fall in love, but once I fall, I fall in really deep.

Now I'm thinking of my future.
I'm not sure that I'm gonna love another man in 100% like I love him. I'm not sure I can fully giving my heart to another man like what I did to him.
I fall really deep.
I'm still crawling up to see another light.

For many times I said, he's the best combo ever. If he's still alive, it will be the greatest thing if I can marry a guy like him. It's my dream to marry a guy who act like a brother to me, like a best friend, and lover at the same time. It's always be in my wish to grow old together with the one who understand me, holding hand together until our hair turn grey. It's a happily ever after in my version.

Now, I'm not sure I can get my own happily ever after.

Tapi sebagai orang beragama, gue nggak mau bertindak seperti layaknya orang yang nggak punya Tuhan. Pengharapan dalam Tuhan itu tak pernah sia-sia. Doa manusia yang percaya padaNya, tidak akan pernah diabaikan. Segala sesuatunya baik dalam rancanganNya.
Hanya ada 3 jawaban yang akan Tuhan berikan dalam setiap doa manusia.

Ya, artinya itu yang terbaik buatmu.
Tidak, artinya Ia memiliki yang lain yang lebih baik buatmu.
Tunggu, artinya waktunya belum tepat. Kita harus bersabar.

Tuhan sedang mempersiapkan yang lebih baik buat gue. Cuma itu yang selalu gue ingatkan pada diri gue sendiri. He's plan is always great. God is the best planner.

Ibarat serial, Tigor is one of the best episode in my life.
With him, we learn to put a hope in God.
With him, we see a lot of miracle happened.
With him, I know the struggling with tears doesn't always mean a misery.
With him, I learn to love myself.
With him, I believe Jesus is always good, even in the darkest and deepest situation of my life.
With him, I never stop to always try being a good version of me.
With him, I learn that sincerity is one of the expensive thing in this world.

Dia nggak pernah beliin gue macem-macem barang. Dia nggak pernah memperlakukan gue layaknya tuan puteri, seperti harapan sebagian besar makhluk bernama wanita di muka bumi ini. He never did a romantic thing for me. Dia tidak sempurna.

Tetapi ketulusan yang dia beri, menjadi apa adanya di depan gue, adalah hal termahal yang pernah dia berikan buat gue.

I'm not sure I can love the other guy in 100%.
It probably 100% minus.

Namun hati kecil gue masih berharap, there will be another guy come and giving his hand to help me. To love me more than Tigor did. I'm not expecting he'll be same like Tigor. But at least, he can giving me a sincerity to make me believe, to help me battling with my insecurities, and to always put me closer to my dear Jesus Christ.

Rest in Peace, Tigor...
Heaven is must be a very nice place.
Setiap orang akan kembali ke rumah penciptanya, toh?
and I wish I can see you again in heaven.

November 6, 2017

Thor : Ragnarok - Mengenal Sisi Lain dari Si Dewa Petir



I'm gonna watch it for second time!
Itu yang langsung gue katakan ketika gue nonton film ini.

Film Marvel terakhir di tahun 2017 ini sesuai ekspektasi gue banget. Serius deh, gue bingung mau mulai nge-review dari mana sangking excited-nya.

Beware of the spoilers!

Dari awal trailer saja, kemunculan Hela yang dengan epic-nya menghancurkan Mjolnir, Si Palu sudah bikin gue melongo maksimal. Kok bisa gitu loh? Siapa sih Hela sebenarnya sampai bisa menghancurkan Mjolnir? Apa seorang dewi kematian bisa se-mighty itu? Bukankah hanya Odin yang bisa mengontrol Mjolnir selain Thor?
Belum lagi keberadaan alter ego-nya Bruce Banner, Hulk di film ini. Ngapain si raksasa hijau itu di planet lain? Setahu gue, Ragnarok dalam mitologi Nordik nggak melibatkan makhluk hijau raksasa dari Amerika deh. Jadi Hulk ngapain? Darmawisata?
Lalu Doctor Stranger yang ikut juga jadi guest star di film ini. Ngapain si Mr Doctor ini muncul? Belum lagi Loki, si Asgardian "adopted" yang kembali muncul setelah sebelumnya sukses bikin gue nangis kecele karena gue pikir dia mati. Rese memang dia.
Jadi intinya, trailer yang penuh tanda tanya dan bikin penasaran sampai ke ubun-ubun itu terjawab sudah dengan memuaskan!

Yeaaayyyyy!!! *teriak tepuk tangan sambil pasang kembang api dengan meriah*

Jadi mari kita awali dengan pertanyaan, Apa sih Ragnarok itu?
Dalam mitologi Nordik, Ragnarok adalah pertempuran akhir dunia. Bisa dibilang Ragnarok itu semacam kiamat bagi para Asgardian dan seluruh alam semesta.

Dalam film ini, Ragnarok ini sudah diramalkan oleh Odin sejak lama. Oleh karena itulah, salah satu cara untuk menahan terjadinya Ragnarok, Odin menahan Hela yang ternyata adalah firstborn-nya. (Whuaaatt??!!) Jadi Hela, The Goddess of Death ini adalah kakak dari Thor. Kandung yah.. bukan adopsi.

Singkatnya aja deh, karena gue takut spoiler kebanyakan.

Hela is coming to town, I mean Asgard and destroy everytyhing. Thor terdampar di planet Sakaar dan bertemu dengan Valkyrie, yang menjualnya kepada Grandmaster untuk diadu dengan Thor. (Bingung kenapa bisa begitu? Buruan nonton deh!) Loki pun ada di sana, dan seperti biasa, Loki ini oportunis sejati. But ended, they make a team to facing Hela and trying to stop the Ragnarok. Tapi tetap, ramalan tersebut tidak dapat dihentikan.

I'm trying my best not to spoil a lot of things. Serius! Tapi yang jelas, Taika Waititi berhasil menyajikan Thor : Ragnarok dengan berbeda dengan dua seri sebelumnya. Film pertama Thor dan yang kedua Thor : The Dark World lebih menyajikan drama yang serius. Kedua film sebelumnya lebih menunjukkan kisah Thor dan drama keluarganya, serta Thor dengan drama percintaannya dengan Jane Foster. Film ketiga ini menyajikan komedi dan aksi yang dikemas menarik dengan background musik yang menurut gue... how to explain yah? pas aja gitu.
Tapi serius, Thor kali ini menunjukkan sisi lain dari Thor yang bikin ngakak bolak balik. Dari awal aja sudah bikin ketawa. Belum lagi love hate relationship antara Thor dan Loki, hubungan antara Thor dan Hulk...

Ih serius deh, gue bingung harus jelasinnya dari mana. Taika Waititi berhasil membuat Ragnarok yang harusnya menegangkan secara utuh menjadi lumayan enteng dinikmati jalan ceritanya. Siapa yang mengira kalau Hulk bisa jadi cute? Gue pun tak menyangka kalau bisa melihat Thor yang serius dan pemarah menjadi begitu konyol. (Nggak percaya? Dari awal film saja, gue sudah tertawa geli. Masih nggak percaya? Sudahlah, nonton saja!)
Belum lagi, Cate Blanchett tampil menawan sebagai Hela. Gue nggak bisa ngebayangin aktris lain yang memainkan karakter Hela. She did it gorgeously!

Gue speechless. Nggak tahu harus ngomong apa lagi.

Pesan buat kalian yang menonton yah... Nggak cuma untuk film Thor, tapi buat semua film yang berhubungan dengan Marvel Cinematic. Jangan buru-buru keluar dari bioskop deh. Karena selalu ada hint buat film produksi Marvel setelahnya. Apalagi menyambut Avenger 3 - Infinity War, kita butuh banyak hint supaya nggak penasaran banget.

From 5 stars, I give 5!!

Ps I love you, Chris Hemsworth...
With that new haircut, it turns me on...





October 31, 2017

Lost A Half of My Heartbeat

Menghadapi kehilangan itu berat...

Siapa yang mau ditinggalkan? Apalagi ditinggal pas lagi sayang-sayangnya (Percayalah, dalam kasus gue saat ini, sungguh ini tidak bisa ditertawakan apalagi dijadikan meme)

It's been a long time... Gue udah lama banget nggak nulis di sini. Sekalinya nulis lagi, kok begini bener ya ceritanya? *brb ambil tissue

Gue jadian sama dia bulan Oktober tahun lalu.
Jadian yang dengan kesepakatan bersama tidak kami umbar-umbar dengan berbagai macam pertimbangan. Pertimbangan apa saja?

1. Kami kerja di satu tempat yang sama
2. Beda suku
3. Memang kita bukan tipe yang demen ngumbar-ngumbar.

Di antara ketiga alasan di atas, dua alasan teratas yang menjadi masalah utama, apalagi yang alasan nomor dua.

Nggak mudah pacaran beda suku. Karena tujuan ke depannya adalah menikah. Satu suku aja susah, apalagi beda. Dia Batak, gue Tionghoa. Sama-sama sangat berbudaya, jadinya butuh kesepakatan bulat banget untuk bisa satu. Keluarga yang curiga sana sini. Takut ini itu ke depannya. Banyak lah... tapi intinya, itu yang buat kita nggak mau umbar-umbar. Pikir kita, nanti lah kalau udah jadi menikah, baru kita ceritakan segala cerita tentang kita.

Namun benar kata orang,
Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.

Tepat sehari setelah 1 tahun kita jadian, dia pergi ninggalin gue selama-lamanya. Kembali ke rumah Tuhan.
Gue kehilangan sosok sahabat, kakak, dan tentunya pacar.
Really, he's the best combo that I ever had. Sungguh nggak melebih-lebihkan, he's the best that I ever had.
Kayak judul posting gue saat ini, sungguh, kepergian dia benar-benar membuat gue seperti kehilangan setengah dari nafas dan detak jantung gue.
Sesak.

Sampai detik terakhir nafasnya, gue di sebelah dia.
Masih dengan logika, gue masih sempat mencium tangan dia, seperti biasa yang gue lakukan kalau dia pamit pulang dari kos. Tapi kali ini dia pamit pergi pulang ke rumah penciptaNya.
Dunia gue runtuh saat itu. Sebelum dia pergi, gue masih mampu berdiri kuat, tersenyum, dan menyeka darah dia yang keluar dari mana-mana dengan tenang. Pengharapan yang menguatkan, mungkin hanya itu yang tepat untuk mengungkapkan apa yang gue lakukan saat itu. Tapi saat nggak lagi gue temukan detak jantung di dadanya, dunia gue runtuh. Hati gue remuk. Dunia gue gelap.

Seketika gue ingat. Gue pernah bertanya pada Tuhan ketika suatu saat dulu dia menggenggam tangan gue. "Bolehkah Tuhan, jika tangan ini yang akan kugenggam di altar nanti? Tangan ini yang ingin kugenggam sampai akhir nanti ku menutup mata."
Dan memang tangan itu yang kugenggam, tapi sampai akhir ia menutup mata.

Dan masih banyak yang ingin gue ceritakan, tapi terlalu sakit jika diingat detail semuanya. One day, I'm gonna telling all without tears. Kalau sekarang, masih terlalu sesak.
Yah pasti sulit meninggalkan sebuah kebiasaan rutin yang sudah dilakukan kurang lebih satu setengah tahun.
Dari mulai membangunkan dia, melihat segala hal yang dia lakukan, memasakan makanan buat dia, ngurusin segala keperluan sehari-hari dia... too many things I've done, surely it's hard to forget in a wink of eyes.

Analoginya, kalau lo setiap hari minum susu di jam yang sama, waktu yang sama, dalam jangka waktu yang lama... terus suatu saat dikasih tahu kalau lo nggak bisa minum susu lagi. Hampa kan lo? Itulah yang gue rasa. Udah kaya lagu dangdut. Makan pecel lele, inget dia. Pakai minyak kayu putih, inget dia. Lihat Vario putih, inget dia. Parahnya, sekarang tiap gue nonton bola jadi inget dia. Kan sedih gue... Gue pulang ngelesin, lewat pos hansip, hansipnya pada nonton bola. Terus gue nangis.. Konyol deh...

Tapi ya begitulah rasanya kehilangan. Susahnya belajar ikhlas.

But I surely understanding, life must go on. Gue nggak bisa begini terus. Nggak mungkin gue nangis-nangis terus. Kalau sampai gue sakit dan kenapa-kenapa, I still have my family that love me too. There're still my friends who gonna support me no matter what. And he left me his family that I love too. I have the reason to stay strong, to stand still, to going through my life no matter how hard this life treat me. Dan gue yakin, kalau dia masih hidup dan melihat gue secemen ini, dia pasti bakal marah.

One thing I remember from him, once we had a fight, he said to me with tears in both of our eyes, "Aku cari perempuan yang kuat untuk menguatkan aku. Hatiku nggak sekuat itu, Jen.. Melihatmu kuat, aku jadi kuat. Tolong jangan lemah kayak begini. Gimana aku kuat?"

I will be strong as you will, Bang... I promise 'till one day we meet again in heaven.

But it takes time. Time will heal this pain. Tetapi gue janji, selelah apapun, gue nggak akan menyerah untuk tetap kuat.

He's the best that I ever met. He's my brother, my best friend, and lover at the same time. Jika Tuhan menentukan dia untuk bertemu dengan gue, menuliskan kisah yang menjadi salah satu terbaik dalam hidup gue, walau mungkin bukan jodoh, tapi itu yang terbaik.

Selamat jalan, sahabatku, abangku, kekasihku...
Kesekian kali kuucapkan itu, dan masih sesak untuk mengungkapkannya.
One day I'm gonna meet another one. Semoga cintanya bisa lebih dari apa yang sudah dia berikan buat gue. Bukan berarti melupakan dia. Dia tetap akan jadi cerita manis dalam hidup gue.

For the first I write your name in this blog of mine,
I love you, Tigor Setiawan Sidabutar...

Losing you like losing a half of my heartbeat.
Losing you is parting my heart into pieces.
But knowing you is one of the greatest story that God ever written in my life.

Peace in heaven, Sayang...

August 7, 2016

Suicide Squad - It's Good to be Bad


This year is really a good year for the movie lover like me! Both Hollywood and the local.

Gue sebenarnya mau nge-review banyak film di blog ini. Yah review abal-abal lah, bukan yang expert banget. But, I have a bad time management in handling the blog, jadinya beberapa film yang gue rencanakan untuk di-review di sini jadi terbengkalai. Pekerjaan yang tambah banyak, proses pemulihan sakit, jadi alasan gue kenapa gue nggak bisa nge-blog sering-sering (Terus aja bikin excuse, Je!)

Well, but I don't want to miss reviewing this movie.

Mungkin setiap orang punya something yang bisa bikin mereka bisa turn on banget. Genre musik, genre film, makanan tertentu, named it! Dalam urusan ini, gue punya salah satu hal yang bisa bikin gue turn on banget. This kind of fictional superheroes and anti-heroes.

Kalau untuk superheroes, gue cinta mati dengan produk Marvel lah. Dari jaman gue cuma tahu X-Men sampai akhirnya ngerembet ke semua jenis pahlawan yang sudah diciptakan oleh Marvel. Dari jaman baca komiknya via online, sampai akhirnya satu persatu difilmkan.

We knows that Marvel and DC mungkin adalah 2 pencipta karakter superheroes dan anti heroes yang paling populer di Amerika sana. Untuk superheroes nya, gue nggak terlalu suka dengan DC. They are too dark, too melancholy, my opinion yah... Gue nggak begitu suka dengan Batman, kecuali his Bat Mobile and all the gadgets he has. Gue nggak suka Robin, nggak suka Catwoman, nggak suka Superman (karena pakaiannya yang menurut gue terlalu ketat dan nggak modis itu, dan nampak nggak nyaman di bagian selangkangannya), nggak suka Wonder Woman (I'm watching it, just because Gal Gadot play the role and Chris Pine will be appear in the movie), nggak begitu suka dengan Green Lantern (except the fact that Ryan Renolds play the role for the movie and it made him met his now wife, Blake Lively), dan nggak begitu suka dengan The Flash (except the fact that Ezra Miller play the role so good). See? Alasan gue menonton produk DC Comic, karena aktor dan aktrisnya, bukan karena gue sungguh-sungguh suka.

Beda dengan Marvel, I love the superheroes becaus they are more colorful. Lebih unik, lebih aneh-aneh, dan lebih macam-macam jenisnya. Semakin aneh, semakin gue suka (Hmm, kok malah jadi gue yang terdengar aneh ya? But, it's fine!).

Tapi di posting kali ini, gue nggak akan bahas banyak-banyak tentang Marvel, karena gue akan bicara tentang Suicide Squad.

Suicide Squad is a fictional government agency created by DC Comic. Di komiknya, Suicide Squad juga dikenal dengan nama Task Force X. Dalam versi filmnya di tahun 2016 ini, diceritakan kalau Amanda Waller (Viola Davis) memiliki rencana untuk membentuk sebuah, let's say pasukan, yang terdiri dari para 'bad guys' untuk melakukan 'something good'. Didampingi oleh Col.Rick Flag (Joel Kinnaman) dan Katana (Karen Fukuhara), mereka mengumpulkan para penjahat kelas tinggi untuk diajak bergabung dengan mereka. Singkat cerita, Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Robbie Margot), El Diablo (Jay Hernandez), Killer Crocs (Agbaje), Captain Boomerang (Jai Courtney), dan Slipknot (Adam Beach) diajak untuk bergabung. How to keep these bad guys want to do what Waller want them to do? Waller menanamkan sejenis bom di leher mereka. Jadi kalau mereka macam-macam, they die. Slipknot yang mencoba main-main, akhirnya mati sebelum yang seru-seru terjadi. Sayangnya Waller tidak sepenuhnya jenius. Ia salah perkiraan dan perhitungan, mengira bahwa Enchantress aka June Moone (Cara Delavigne) bisa dikendalikan olehnya. Nyatanya, Enchantress malah berbuat ulah di film ini, yang sebenarnya juga disebabkan karena kelalaian Flag.

I have a big expectation in this movie. Mendapati kenyataan kalau Batman Vs Superman terlalu membosankan untuk ditonton, gue berharap Suicide Squad tidak akan membuat efek yang sama. I said to my friend, that I bet this movie is better than BvS. Biarpun ternyata ekspektasi gue nggak benar-benar amat, tetapi gue juga nggak salah-salah amat. Suicide Squad give me a better reaction than Batman vs Superman.

Jujur yang bikin gue tertarik awalnya adalah Harley Quinn, The Joker (Jared Letto) dan Enchantress. Kenapa mereka? Karena Harley Quinn adalah villain perempuan paling favorit buat gue di DC, lalu Poison Ivy. Lalu Joker. Gue penasaran aja, gimana Letto mainin karakter ini. Gue suka dengan dandanannya yang lebih kelihatan psycho daripada pas Alm.Heath Ledger yang mainin dulu. Gue juga lebih suka Joker versi ini, karena cara bicara, ekspresi muka, gestur, lebih menyebalkan dan lebih terlihat jahat. Ledger berhasil membuat Joker terlihat psycho dari ekspresi dan perkataan, tapi gue bosen dengan penampilan dia yang pakai baju itu-itu aja. Sekali lagi, ini opini gue. Gue senang kalau visual gue dihibur, makanya gue lebih suka Joker versi Jared Letto. Lalu kenapa Enchantress? Karena yang main Cara Delavigne, dan Cara ini cantik banget. Udah.


Film ini sayangnya nggak terlalu memenuhi ekpektasi gue, karena di tengah-tengah gue merasa ada bagian yang nggak terlalu penting, tapi dipanjang-panjangin. Setiap karakter punya ceritanya sendiri. Kisah Deadshot dan cintanya untuk putri tunggalnya, Zoe. Kisah Harley Quinn aka Dr. Harleen Frances Quinzel, psychiatrist di Arkhan Asylum yang jatuh hati pada Joker lalu rela mengorbankan apapun buat si penjahat badut itu. Kisah El Diablo dan keinginannya untuk jadi manusia biasa karena merasa bersalah telah membunuh istri dan anak-anaknya. Bahkan ada kisah Katana aka Tatsu Yamashiro yang menjadi seperti itu setelah kematian suaminya. Belum lagi kisah cinta Rick Flag dan June Moone. Rasa-rasanya penulis cerita ini merangkumnya kurang baik dalam durasi yang ada. Jadinya terkesan banyak yang bisa disajikan, tetapi dilewatkan begitu saja. Tetapi paling tidak, film ini tidak hanya menampilkan adegan action semata, tetapi juga menyajikan beberapa kisah-kisah manis yang membuat Suicide Squad tidak mentah-mentah cuma tembak-tembakan dan pukul-pukulan.

Suicide Squad berhasil menambah daftar celebritu crush gue, Margot Robbie. She present Harley Quinn really good. Gue suka banget dengan look dia, termasuk cara bicaranya yang menurut gue yah... Harley Quinn. Dan Jared Letto... Gue pingin lihat dia lagi jadi Joker. Wish he gonna appear in Justice League next year.

Ini aja review gue. Gue nggak mau spoiler banyak-banyak lagi, kecuali ini. Jangan buru-buru keluar bioskop after credit. Ada bocoran soal Justice League.

Well, DC... Please try to steal my heart. Karena setelah ini Doctor Strange juga akan tayang. Lalu tahun 2017 juga bakal ada Thor: Ragnarok, Guardian of The Galaxy 2, dan Black Panthers. Apakah Wonder Woman dan Justice League bisa mulai merebut perhatian gue ke DC? Kita lihat saja. Yang jelas, tahun ini sampai tahun 2017, dompet gue bakal sering lost karena gue rajin ke bioskop.

From 5 stars, I give 3.5 to Suicide Squad. Please say thanks to Harley Quinn, Enchantress and Joker.

Ha... Ha... Ha... Haa... *read in Joker's voice*

July 14, 2016

Quarter Life Crisis


Sebelumnya gue nggak pernah berpikir kalau Quarter Life Crisis bakal terjadi dalam hidup gue. I even proudly declared to myself that I am so ready in facing my 25, so bye bye that so called quarter life crisis. Dan ternyata, bah! Memang yang namanya sombong itu haram.

It happened about two months ago, when I was starting to ask myself, what I wanna do next? I was a girl with bunch of dreams. I had a lot of bucket list (which I made every year end, and finally ended just written in my notebook, yang gue curiga kalau dikumpulin bisa jadi buku malahan). Then, I began to have no will in making dreams or even wrote a bucket list. Gue merasa hidup gue lumayan cukup. Lumayan cukup loh ya, masih belum cukup berarti.

Lalu sekitar sebulan yang lalu, badan gue drop. Sudah hampir kira-kira 8 tahunan kali ya, gue jarang jatuh sakit separah ini. I always feel so strong, padahal aslinya cemen banget ini antibodi. Gue aja yang terlalu mengabaikan badan gue. Terlalu sombong untuk mengakui bahwa gue ini nggak sekuat itu. Sekali lagi, memang yang namanya sombong itu haram.

Sakitnya gue dimulai dari diare berkepanjangan selama kurang lebih 3 minggu, yang bikin gue paranoid mau makan apapun. I check to the doctor and the doctor said, gue harus menghindari yang pedas-pedas, yang asam-asam, yang terlalu berbumbu dan bersantan, kacang-kacangan, dan jenis saus-sausan. Tapi ujung-ujungnya, gue berakhir paranoid makan apapun.

Sekarang, coba pikir! Kalau sehari lo ke kamar mandi bisa sampai 10 kali lebih, kalau kloset bisa ngomong, gue rasa itu kloset udah ngeludahin gue kali, sangking muaknya gue setor melulu.

Puncak kekesalan gue pada diri sendiri adalah ketika libur Lebaran kemarin, gue berencana menghabiskan waktu di Semarang dengan jalan-jalan, nonton bioskop sepuasnya, kuliner sana sini, dan... GAGAL! Gue hanya berakhir di rumah saja, minum obat, tidur-tiduran, nonton TV, main Snapchat, buka Twitter dan Facebook, selfie nggak jelas. Malamnya gue nggak bisa tidur karena nafas pendek-pendek dan batuk pilek berkepanjangan. Stressful!

Have you ever feel when you are facing a bunch of trouble, and suddenly you asking to yourself about purpose of your life? I ever thinking about death.

Nggak sampai situ, my parents even talking about marriage. Menikah dari mana, kalau pasangan hidup saja nggak ada. Yang sempat hadir pun tidak jelas maunya apa, berakhir di tengah jalan karena alasan ini dan itu. Males banget. Karena yang mau berusaha dan berjuang akan lebih menang daripada yang maunya lancar-lancar aja. Jalan tol aja bisa macet,Pak! (Maaf, curcol! Emosi...) Jadi kalau sudah ditanya-tanya soal "kapan cici bawa pacar? Kok mama pingin punya cucu ya? Ada yang lagi ada di hati kamu nggak,Ci?" Bawaannya gue pingin menghilang saja macam Jinny Oh Jinny.

Lima tahun yang lalu gue masih santai-santai aja. Masih merasa muda, masih merasa ini waktunya main-main, dan merasa jodoh itu urusan Tuhan. Jadi gue doanya masih nggak sungguh-sungguh. Lah sekarang? Lama-lama gue puasa deh demi jodoh. Gue mau nyantai, tapi kok yang nanya ngegas pol. Gue manusia biasa, dan gue stress juga.

Until one of my friend gave me an advice.

"You should stop thinking too much" then she gave me a bunch of advices. Bukan gue nggak dengerin lanjutan nasihat dia, cuma kalimat "You should stop thinking too much" sangat mengena banget buat gue. Gue memang berpikir terlalu banyak, dan gue lelah sendiri pada akhirnya. Otak gue ada batasnya. Gue harus bisa lebih santai. Gue ini orang beriman dan beragama, harusnya gue belajar percaya sama Yang Maha Kuasa. Ada yang lebih besar daripada manusia, dan dia yang menentukan segalanya. Semua tepat pada waktunya.

Masalah kesembuhan gue, semua balik ke diri gue sendiri. Gue sakit pasti karena gue kurang perhatian sama badan gue sendiri. Gue nggak sayang sama diri gue sendiri. I should love myself. Gue yang harus semangat untuk sembuh. Pasti sembuh. Intinya gue yang harus semangat.

Gue nggak tahu Quarter Life Crisis gue sudah berakhir apa belum, tapi yang jelas gue masih bisa bersyukur karena gue punya keluarga yang masih ada buat gue, seorang sahabat yang masih mau ada buat gue saat gue butuhkan, dan yang terutama, gue percaya Tuhan sayang sama gue karena gue masih Dia karuniakan mereka-mereka ini.

I wish it will pass soon... Sambil menunggu, gue berusaha saja untuk senang. Melupakan yang sedih-sedih dan pahit-pahit. Have fun go mad!