January 3, 2018

Jessela - Part 4 Let It Go


4
Let It Go



Aku sengaja memilih untuk tinggal di penginapan yang tak jauh dari Gereja Ganjuran, Yogyakarta. Alasan yang mungkin terdengar terlalu sok suci. Aku hanya ingin merasa dekat dengan Tuhan. Dalam keadaan seperti ini, rasa-rasanya tidak ada yang mampu menolongku selain Tuhan, Sang Pemilik kehidupan itu sendiri.
“Maafkan saya, Jessela. Saya tidak ada maksud untuk mengorek kehidupan kamu. Sebagai dokter, saya…”
“Hanya berusaha untuk memberikan kesembuhan bagi orang yang membutuhkan.” Kataku, melanjutkan perkataannya yang tadi kupotong.
Aku tersenyum dalam usahaku meminta maaf karena telah memotong perkataanya tadi dan berusaha meyakinkan Rere kalau aku tidak menyesali keputusanku untuk menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Sejak siang tadi, laki-laki ini mendadak jadi seperti orang yang canggung. Wajahnya seperti menunjukkan perasaan bersalah. Padahal dia tidak ada salah apa-apa. Dia hanya berusaha menjadi teman perjalanan yang baik dan dia sungguh menunjukkan itikad baiknya itu sampai saat ini.
“Pasti berat ya buat kamu…”
Kami duduk di kursi paling belakang ruang ibadah. Hanya ada aku dan Rere. Penerangan redup karena hanya lampu altar dan sedikit cahaya dari ruang doa yang menyinari. Mataku memandang jauh kepada salib yang ada di dekat altar. Bertanya dalam hati pada Tuhan yang bertahta di hadiratNya sana, Apa rasanya berada di surga sana? Pasti menyenangkan tak lagi membawa beban. Kapan aku bisa pulang ke rumahku yang abadi itu?
“Biasanya aku kuat. Tetapi sejak dia meninggal, seolah kekuatanku dibawa pergi juga bersama dia. Hanya disisakan sedikit.”
Ada jeda sejenak. Waktu seolah berhenti sampai aku dapat mendengar suara angin berhembus dari pinggir jendela. Bahkan suara titik api yang membakar sumbu dari lilin-lilin yang ada di ruang doa saja tertangkap oleh gendang telingaku yang terbatas. Mendadak secara abstrak, aku ingin melebur saja rasanya. Hatiku sakit lagi.
Aku benci jadi lemah.
Aku benci menangis di depan laki-laki, apalagi laki-laki yang baru kukenal.
Aku ingin seperti kerang. Kerang yang lunak memiliki cangkang yang keras untuk melindungi dirinya. Aku butuh cangkang itu sekarang.
“Beberapa bulan yang lalu, sekitar pukul segini, Tyaga masih hidup. Dia masih meracau dan minta supaya selang di mulutnya dicabut. Matanya masih bisa memandang saya, memohon supaya ikatan di tangannya dilepaskan. Dia masih berusaha bangkit saat ibunya datang ke ruang ICU untuk melihatnya…”
Nafasku mendadak jadi sesak. Dadaku seperti penuh dengan sesuatu yang berat. Tenggorokanku tercekat membuatku sulit bernafas. Sesaat aku berharap, lebih baik aku lumpuh ingatan saja.
“Tengah malam, dokter bilang pada kami kalau Tyaga dinyatakan dalam kondisi mati batang otak. Saat itu, kekuatan saya seperti sudah hilang separuh. Menguap entah ke mana. Hati saya hancur, tapi saya masih berharap Tuhan sudi memberikan kesempatan buat saya untuk melihat Tyaga sembuh.”
Dan kali ini tidak hanya tenggorokanku saja yang tercekat. Kepalaku bahkan terasa pening dan dadaku terasa sakit. Entah sampai kapan begini? Selalu tersiksa saat mengingat Tyaga pergi.
“Tapi Tyaga ternyata tidak pernah bangun lagi, Re… Dia bahkan nggak sempat mengucapkan apapun pada saya. Hanya dua kali gerakan kecil saat terakhir saya berdoa buat dia. Setelah itu dia pergi, Re… Hati saya hancur. Sampai sekarang.”
Rere hanya diam, tidak berani menataku. Pandangan matanya lurus menghadap ke arah altar. Mungkin kalau aku yang ada di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. Dia pasti merasa tidak nyaman sekarang.
“Jessela, hidup dan mati itu rahasia Tuhan,” Rere berkata dengan suara sangat pelan seperti berbisik. “Aku belajar tentang itu saat aku memutuskan menjadi dokter.”
“Saya tahu, Rere… Saya tahu kalau hidup dan mati manusia itu sudah ada suratannya. Saya cuma belum bisa menghadapi sakitnya melihat kematian di depan mata saya sendiri.”
“Selama hampir 10 tahun menjadi dokter, mulai dari masa koas hingga saat ini, saya sudah melihat puluhan kematian di depan saya. Tiga di antaranya meninggal di meja bedah saya.”
Aku menoleh menatap Rere. Sementara yang ditatap masih fokus pada altar, tetapi pandangannya kosong. Ekspresinya juga kosong. Rere yang ramah mendadak seperti dingin tanpa nyawa.
“Salah satu di antara tiga itu adalah Opa saya sendiri.”
“Opa?”
Rere menoleh kepadaku, tersenyum pahit. “Iya, Je… Opa saya. Opa yang membesarkan saya sedari bayi. Kamu tahu rasanya?”
Otomatis aku menggeleng.
It feels like I was killing my own grandpa. He believed me, but I can’t keep his belief. Saya merasa seperti tak layak hidup, Jessela. Merasa tak berguna.”
Tak ada yang bisa kulakukan selain menunduk dan meminta maaf pada Rere. Ternyata ceritaku malah membuka luka lamanya. Kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup memang selalu menyakitkan.
I’m sorry, Rere…”
It’s okay, Jessela…”
Rere menarik paksa seutas senyum di pipinya. Senyum yang meninggalkan setitik lesung pipi di sebelah kiri wajahnya itu. Pasti berat buat Rere, karena aku bahkan dapat merasakan aroma biru dari ekspresi wajahnya. Luka lamanya lebih menyakitkan dari milikku.
“Butuh dua tahun lebih, Jessela. Setelah Opa meninggal, saya pergi jauh dan resign dari rumah sakit tempat saya bekerja dulu. Saya merasa tidak pantas menjadi dokter. Saya tidak mau lagi membunuh siapapun.”
“Orang tuamu bagaimana?”
“Mama saya marah besar. Mama merasa saya terlalu kekanak-kanakan dan drama.”
“Papamu?”
“Papa saya jauh lebih hangat dalam membujuk saya. Papa juga kehilangan Opa. Tidak hanya saya, Opa punya peranan besar bagi hidup papa saya. He’s a great father for him, almost like a superhero for my papa. Dan papa tidak menyalahkan saya atas meninggalnya Opa. Menurut Papa, I’ll try my best already but God do the rest. Who can beat Him?
Seolah berusaha melepas beban berat di dalam dada kami, kompak aku dan Rere menghembuskan nafas berat. Misteri hidup dan mati memang akan selalu menjadi top secret-nya Tuhan. Sebagai manusia kita hanya bisa bersiap. Toh, semua akan kembali menghadapNya.
“Kamu juga sudah melakukan yang terbaik, Jessela. Jangan menyalahkan diri.”
Aku mengangguk. Rere tidak salah, tetapi aku tak yakin melakukannya semudah menganggukan kepala. Semua tentang Tyaga masih membekas jelas di dalam pikiranku. Segala rutinitas yang selalu kami lakukan dan kini tak bisa lagi kulakukan, sungguh membuat aku merasa kosong. Bayangkan saja, melihat pertandingan sepak bola saja membuatku pilu. Tyaga suka sepak bola dan mengingatnya membuatku rapuh. Konyol, namun itu kenyataannya.
“Rere? Bagaimana caranya kamu bangkit?”
“Hmm?”
“Maksud saya, gimana caranya kamu bisa berani lagi melakukan operasi? Pasti butuh sesuatu kan supaya kamu nggak lagi merasa takut?”
“Sumpah dokterku, Jessela. Sesederhana itu logika mengingatkan aku, kalau manusia seringkali terlalu dramatis. Drama yang kita buat sendiri dan menyusahkan diri sendiri.”
Aku mengernyit, agak kurang setuju. “Apa itu tidak terlalu dingin,Re?”
“Awalnya aku berpikir begitu, Jessela… Tetapi sungguh. Saat kita berpikir ulang, kamu akan menyadari bahwa move on bukan berarti kita menjadi seperti tak punya hati.”
Rere bangkit dari tempat duduknya. Matanya dengan sopan memandangku, tangannya diulur meminta ijin untuk meraih tanganku.
“Ayo kita lihat Yogyakarta di malam hari. Kita lihat, apa malam ini kamu akan tetap disiksa sama monster yang mau membunuh kamu selama ini?”
Aku menaruh tanganku di telapak tangan Rere. “Kita mau ke mana malam-malam begini? Jangan aneh-aneh ya…”
Rere tertawa lalu menarikku berdiri dari tempat tidurku. Karena tak punya tujuan, aku diam saja saat tanganku digandeng olehnya keluar dari gereja. Setelah mengangguk sopan untuk pamit pada penjaga gereja, Rere mengeluarkan sebuah kunci dari saku jaketnya.
“Sekali-kali kita melakukan hal yang tidak sehat.”
Aku langsung menarik tanganku dari Rere. Praktis menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Sebuah gesture melindungi diri. Rere mendadak nampak menyebalkan. Apalagi sekarang laki-laki ini senyum-senyum mencurigakan.
“Kamu nggak akan bawa aku ke tempat macam… sarkem kan?”
FYI, Sarkem atau Pasar Kembang adalah tempat lokalisasi terkenal di Yogyakarta. Konon katanya, Sarkem ini sudah dibangun sejak tahun 1818. Yahh, semacam Gang Doli kalau di Surabaya.
Rere tertawa lepas. Jenis tawa yang mengejek. Sementara Rere puas tertawa, aku malah jadi merasa bodoh dan malu sendiri. Wajahku mendadak terasa panas, padahal angin mala mini berhembus dingin di permukaan kulit.
“Memangnya aku ada tampang buaya darat yah?”
Aku menggeleng. “Enggak sih. Habis malam-malam dan melakukan hal yang tidak sehat, kok agak mencurigakan…”
Rere berdecak lalu mengulum senyum, “Lupa? Kalau aku ini dokter. Kalau bicara tidak sehat, yah berarti berhubungan dengan kesehatan.”
“Aktivitas di Sarkem itu juga memicu penyakit loh!” Aku membela diri, mencoba menahan malu karena sudah sok tahu.
“Makan sate, Jessela… Aku mau ngajak kamu makan sate. Makan sate malam-malam itu nggak sehat. Apalagi kalau sampai bertusuk-tusuk…”
“Oohh… Mau lah kalau itu.”




Susah Sinyal - Cerita Tentang Seorang Mama dan Anak




Ernest Prakasa and Meira Anastasia is gonna be a favorite couple goal for me!
Setelah sebelumnya gue merasa kalau Fitri Tropica dan Irvan Toge adalah couple goal, sekarang pasangan suami istri ini menjadi favorit gue. Bukan karena mereka ini selebriti. Lebih karena gue senang melihat suami istri yang bisa kompak dalam berkarya.

Setelah Ngenest dan Cek Toko Sebelah, gue bertekad untuk selalu memantau dan mengikuti semua karya Ernest Prakasa. Selain itu, Ernest adalah stand up komedian favorit gue pula. Bukan karena kami "sebangsa", no...! Ya walaupun gue bangga juga, karena ada kokoh" yang berhasil merebut hati penonton Indonesia - tak pandang ras, suku bangsa, agama, strata, jabatan, ataupun berat badan,  dengan karyanya. Positif! Bukti nyata bahwa kokoh" dan encik" itu habitatnya bukan cuma di Glodok dan ITC Mangga Dua, dan bukan hanya pemilik toko handphone ataupun pengusaha restoran Tio Ciu.



Di mata gue, Susah Sinyal adalah cerita tentang Ellen (Adinia Wirasti) dan Kiara (Aurora Ribero), seorang ibu dan anak yang belajar mengenal satu sama lain. Perjuangan Ellen sebagai seorang single parent, belum dapat dipahami oleh Kiara. Di mata Kiara, Ellen hanya peduli dengan karier. Kiara hanya ingin waktu bersama Ellen yang selama ini digantikan posisinya oleh omanya, yang tak lain adalah ibunda dari Ellen. It's all the matter of communication. That's it! Tetapi butuh sebuah perjalanan menuju Sumba yang minim sinyal ponsel untuk membuat mereka mengerti satu sama lain. Perjalanan yang rupanya tak hanya minim sinyal tapi juga minim listrik (let me laugh, hahaha!) yang membuat Ellen akhirnya paham bahwa tawa dan bahagianya Kiara itu tak terganti. Perjalanan jauh dari peradaban kota itu juga yang membuat Kiara paham kalau bagaimanapun juga, mamanya sayang dengan dia. Mereka hanya butuh terbuka satu sama lain dan tidak sok jadi kuat sendiri.
Tidak hanya Ellen dan Kiara, tetapi cerita tentang hubungan orang tua dan anak juga bisa kita dapatkan dari pasangan Cassandra (Gisela Anastasia) dan Marco (Gading Marten) yang memperebutkan hak asuh anak dalam sidang perceraian mereka. Darren, putra mereka mengatakan bahwa ia tidak butuh mainan dari mamanya, tetapi yang ia mau adalah bermain dengan mamanya. Jadi lewat Susah Sinyal, Ernest dan Meira berhasil menunjukkan bahwa betapa pentingnya peran seorang mama buat anak mereka. Kehadiran, keberadaan, pelukan, dan telinga untuk mendengar jauh lebih penting bagi seorang anak daripada harta yang bergelimang.

Two thumbs up! Kalau bisa empat, jempol kaki gue juga gue acungin dah!



Masih dengan beberapa cast dari film sebelumnya, Cek Toko Sebelah, Ernest Prakasa juga masih menawarkan komedi segar ala Stand Up Comedian. Walaupun kalau dibandingkan CTS, intensitas ngakak gue masih lebih sedikit untuk Susah Sinyal ini. Good point-nya adalah Ernest dan Meira berhasil menyuguhkan kisah keluarga yang real. Gue yakin issue serupa pasti pernah terjadi untuk banyak orang tua yang punya anak remaja seumur Kiara. Bahkan anak-anak remaja yang orang tuanya sibuk berkarier, apalagi yang orang tuanya single parent, bisa jadi juga merasakan hal yang sama.

Hanya kalau boleh berharap, Ernest mungkin bisa mencoba aktor dan aktris lain untuk bisa menghadirkan warna baru di filmnya. Tidak ada yang meragukan aktris sekelas Adinia Wirasti, tetapi penonton yang bukan fans hardcore Adinia akan merasa jenuh kalau semua film di bioskop isinya Adinia saja. Sama jenuhnya waktu beberapa waktu yang lalu, Reza Rahardian terus yang wajahnya nongol di poster film bioskop Now Showing bahkan yang di Coming Soon. Gue yang fans berat Reza aja jenuh, apalagi yang biasa aja. I don't want it happen to Adinia too. I adore her, really. 

Okay, gue bukan ahli dalam memberikan review. Hanya seorang biasa yang hobi banget nonton dan berharap film Indonesia jauh lebih baik.
From 5 stars, I give this movie 4 stars.
Very recommended to watch. Nggak sia-sia lah intinya buang duit dan memperkaya Ernest Prakasa buat nonton film ini. Nggak papa Ernest kaya, yang penting dia nggak berhenti berkarya.

Happy watching!

Melawan Dunia




Setiap manusia pasti punya cerita mereka sendiri tentang melawan dunia.
Pertama kali dengar lagu ini, gue nangis sejadi-jadinya. Liriknya tidak terlalu puitis, tetapi cerita yang menjadi muse lagu ini luar biasa. Salut dan tersentuh. Barisan doa gue kirimkan buat mereka, walau gue tidak kenal mereka.

Ludi dan Ratih mungkin hanya satu dari pasangan muda dan orang tua yang luar biasa. Sepotong cinta mereka buat baby Adam mampu menggerakan hati siapapun yang mengikuti cerita mereka dari awal hingga akhir. Biarpun pada akhirnya Adam harus menyerah dan kembali pada Pencipta, kita bisa belajar bahwa berjuang itu dilakukan oleh semua manusia. Lantas, jika ada masalah, apa kita harus menyerah?

Sejak Tigor meninggal, gue selalu merasa bahwa sehebat apapun kita, hidup ini bukan milik kita. Nafas yang ada ini hanyalah pemberian Tuhan. Suatu saat, jasad kita ini hanya seonggok daging dan tulang. Lantas, apa yang harus disombongkan?
Buat gue, hidup itu tidak lagi hanya go with the flow. Hidup ini seperti pertandingan lari. Nggak heran kalau kadang kita lelah. Bukan lebay kalau kadang kita merasa mau menyerah aja. Tenaga kita terbatas. Hanya tujuan yang kuat yang bisa bikin kita terus bertahan walau lelah dan digoda rasa ingin menyerah.
Sekali lagi gue tanya, apa yang bisa disombongkan?

Harta?
Sebanyak apapun harta yang kita punya, harta tidak mampu memberikan kebahagiaan yang abadi. Harta tak mampu mengembalikan nyawa seseorang. Harta tak mampu kita bawa menghadap Sang Ilahi.

Jabatan?
Apalagi!
Surga dijanjikan buat siapapun yang percaya pada Tuhannya, melakukan apa yang menjadi kehendakNya, serta menjauhi hal yang tidak diperkenankan olehNya. Jadi bukan jaminan kalau ngana presiden, lantas pasti masuk surga. Menurut kalian, pemimpin dunia yang terkenal macam Adolf Hitler begitu, pantas masuk surga begitu saja?

Kecantikan jasmani?
Kalau tampan dan cantik mampu membuat kita bahagia, mengapa Marilyn Monroe meninggal dengan spekulasi bunuh diri?

Jadi apa yang bisa kita sombongkan?

Sama seperti Ludi dan Ratih, gue pun punya cerita sendiri tentang melawan dunia. Ludi dan Ratih melawan dunia dengan berjuang untuk tidak kalah dari penyakit Trisomy 13 yang diderita putera mereka. Gue berjuang untuk bisa meyakinkan banyak pihak, bahwa berbeda itu bukan penghalang. Gue berjuang bareng Tigor untuk meyakinkan dia, penyakit dia bukan hambatan untuk dia mengejar apa maunya dia.

Banyak hambatan.
Banyak tuduhan.
Banyak cibiran.

Tidak sekali kita mau menyerah saja.
Tidak sekali kita menangis bersama.

Dan pada akhirnya, Oktober 2017 kemarin Tigor menyelesaikan perjuangan dia. Bukan perjuangan yang sia-sia. Dia pergi meninggalkan hal baik yang selama ini dia mau. Tidak membawa harta, tidak membawa jabatan, dan tidak membawa keindahan fisik. Kenangan baik yang dia tinggalkan buat kami. Buat keluarganya, buat gue, buat murid-murid kami.
Mr Tigor, guru olahraga yang seru, lucu, baik, dan sayang sama muridnya. Mr Tigor yang walau bolak balik kumat sakitnya, masih tetap datang ke sekolah untuk mengajar murid-muridnya, walau dengan wajah dan badan yang bengkak karena efek obat dan penyakitnya.
Tigor atau Iwan - begitu biasa keluarganya memanggil dia, adalah anak yang baik dan tidak banyak menuntut bagi orang tuanya. Seorang adik yang baik di mata kakak-kakaknya. Seorang abang yang menjadi panutan dan sahabat bagi adiknya.
Tigor, sahabat dan kakak sekaligus teman spesial buat gue. Partner diskusi yang seru. Rumah kedua buat gue. Kawan berdoa dan bertumbuh iman selama 2 tahun belakangan ini. Figur yang membuat gue merasa secure untuk berbagi suka dan duka.

Perjuangan kami berdua selesai. Perjuangan Tigor melawan dunia selesai.
Gue?
Tentu belum selesai.

2017 mengajarkan gue tentang berjuang.
Gue belajar bahwa setiap harinya adalah anugerah dari Tuhan yang nggak bisa dibeli dengan uang.
Gue belajar bahwa setiap harinya merupakan kesempatan untuk menjadi baik dan lebih baik, sebelum nantinya menyesal.
Gue belajar untuk hidup sebaik mungkin, seperti layaknya itu adalah hari terakhir gue hidup di dunia.
Gue belajar bersyukur sehingga setiap saat kata menyerah muncul di pikiran gue, selalu ada alasan untuk gue bangkit walau berkali-kali jatuh tersungkur dan berdarah.
Gue belajar bahwa siapapun yang hadir dalam hidup gue merupakan orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk menolong dan memberikan pelajaran berharga dalam hidup gue, tak peduli orang itu baik atau jahat.
Gue belajar bahwa dihina, direndahkan, dicaci maki, dan diberi cap negatif, bukan berarti gue berhak membalas semua itu dengan hal yang sama. Menjadi tetap benar itu adalah bagian gue. Karena pada saatnya gue kembali ke rumah Tuhan, tidak ada pembenaran atas hal buruk di mata Dia. Tuhan meminta umatNya tetap di jalan yang benar.

Mudah?
Tidak.

2018, gue akan terus berjuang.
Setiap hari gue lalui dalam pengharapan dan usaha.
Mungkin gue akan merasa lelah. Mungkin sesekali gue tergoda mau menyerah. Tapi gue akan selalu jadi manusia yang akan terus bangkit, walau remuk tulang lutut gue sekalipun.
Hanya Tuhan yang berhak menghentikan perjuangan gue.
Sampai nanti saatnya gue kembali bertemu dengan Tuhan, gue berharap hidup gue berkenan di mata Pencipta gue itu.

Bagaimana cerita melawan dunia kamu?

Mungkin berat tapi ku tahu,
Apa yang kita jalani,
Sulit mereka pahami...
Namun ku yakin,
Ada jalan untuk kita
Untuk kita, bersama...
Asalkan kita berani, mencinta sepenuh hati
Meski seakan,mencoba untuk bertahan
Walau dihati seakan,
Aku dan kamu melawan dunia...
(Melawan Dunia -  RAN ft Yura Yunita)

December 29, 2017

Jessela - Part 3 Under Construction


3
Under Construction

Pic Source : lovethispic.com

Dulu kupikir, keren sekali nampaknya kalau bisa menjadi salah satu peserta seminar nasional kedokteran. Kenyataannya, membosankan luar biasa! Sudah dua jam berlalu, dan rasa-rasanya aku sudah menguap puluhan kali. Sungguh mati gaya melihat deretan slide berisi macam-macam bagan dan gambar yang tidak kumengerti.
Save by the bell. My phone is ringing.
“Halo, Be?” kataku dengan berbisik, lalu perlahan keluar dari ruangan seminar.
“Lo kenapa malah jadinya datang ke seminar kedokteran?”
Mataku menjelajah bagian luar auditorium tempat seminar diadakan, lalu mendapati deretan tempat duduk empuk warna biru tua. Setelah duduk, baru aku menanggapi pertanyaan Bella. Sementara yang ditanya-tanya sudah menggerutu dengan suara tak jelas dari seberang telepon sana.
“Lo denger gue kagak sih, Je? Je?? Jee…???”
“Iye… Gue denger, Be… Nyari tempat pewe dulu…”
“Alesan aja lu! Sekarang kasih tahu gue, ngapain lo datang ke seminar kedokteran? Terus, dokter Rere yang lo ceritain kemarin, itu siapa? Lo nemu gebetan di bis? Orangnya kayak gimana, Je? Hati-hati ya lo! Biarpun dokter, belum tentu semua dokter itu baik. Bisa jadi doi baik cuma kalau sama pasien. Sama orang lain, ternyata doi buaya darat. Je?? Lo dengerin gue kan??”
Aku menarik nafas panjang dan mengulum senyum. Bella Anjani, sahabatku selama hampir 8 tahun, si muka ketus yang sesungguhnya perhatian dan keibuan. Rombongan pertanyaan yang dilontarkannya barusan merupakan wujud sayangnya padaku. Berkali-kali kukatakan padanya, andai dia seorang laki-laki, mungkin dia yang akan kunikahi.
“Kerjaan lo lagi sepi, Be? Nggak ada email yang kudu dibales?” tanyaku.
Bella semakin sewot nampaknya, “Kok malah lo yang nanya-nanya? Pertanyaan gue dijawab dulu!”
“Oke. Pertama, gue datang ke seminar ini karena gue emang belum ada rencana di Yogya ini. Tepatnya, belum ada ide mau ke mana. Kedua, Rere ini temen sebangku gue di bis kemarin. Bukan gebetan. Camkan itu ya, Be! Ketiga, so far si Rere ini tidak mengancam dan nampaknya baik. Kalau doi macem-macem, I know how to kick hard. Don’t worry.”
Aku dapat mendengar suara nafas Bella yang dihembuskan pelan. Jawabanku belum sanggup membuatnya puas.
“Gue nggak mau lo jadi ngaco gara-gara patah hati. Jangan sembarangan ya…”
“Be,” aku kembali mengulum senyum, paham akan kekhawatirannya. “Lo tahu gue bukan orang yang gegabah begitu kan?”
“Jessela! Last time I saw you cried, you hold a bottle of Baygon in your hand! Dan gue belum lupa juga, subuh-subuh lo teriak-teriak dan berantakin isi laci dan lemari baju lo demi mencari gunting. Nggak gegabah kata lo?”
He’s a good guy, Be… He has a reputation to keep. Doi kerja di rumah sakit yang terkenal. You can Google him too. He’s quite famous, ternyata…”
Still, Je… Gue kuatir. Bukan perkara siapa si Rere ini. Lebih ke lo sendiri, Je. Lo beneran nggak papa di sana sendirian?”
Gantian aku yang menghela nafas panjang. Aku tidak mau mengatakan sesuatu yang tak sungguh jujur. Dalam hatiku sesungguhnya tak yakin, apakah aku akan baik-baik saja. Aku masih berharap, Tuhan bersedia memanggilku pulang juga. Lelah sekali rasanya patah hati.
Promise me, Jessela. You are going to be fine.”
I’m trying my best, Be…”

Ingatanku kembali pada kejadian di pagi buta itu. Hari Rabu, sekitar pukul tiga.
Aku masih berjuang melawan trauma yang terjadi di alam bawah sadarku. Tyaga dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di hari Rabu, pukul setengah lima pagi. Sejak saat itu, bukan dengan keinginanku, aku selalu terbangun di pagi buta setiap hari Rabu. Dadaku sesak, dan bayangan ketika ruang ICU riuh dengan paramedis yang mencoba melakukan pertolongan pada Tyaga kembali terlintas. Ritme suara mesin EKG dan suara alat bantu nafas yang perlahan menghilang itu seolah berdengung di telingaku. Nafasku sesak, membuatku ingin mati saja saat itu. Sungguh, aku ingin mati saja.
Berbagai usaha untuk menghabisi nyawaku sendiri kulakukan di bawah alam sadarku. Bella menjadi semacam was-was setiap Selasa malam. Ia harus selalu membuka telinganya lebar-lebar dan bersiap untuk berlari secepat mungkin menghampirku kalau didengarnya aku berteriak. Semua alat yang tajam, obat serangga, dan apapun yang kira-kira mengancam sengaja ia sembunyikan. Tapi selalu ada saja caraku untuk menyakiti diriku sendiri.
Otomatis aku menyentuh memar di pelipis kananku. Lebam yang tidak pernah tuntas sembuh karena seringkali aku membenturkan kepalaku di dinding. Semua kulakukan di alam bawah sadarku.
Dan hari ini adalah hari Selasa.

“Je? Please…”
It’s under my conscious, Be… Let’s pray.”
Tiba-tiba aku merasa ada sebuah tangan menepuk bahuku. Refleks karena kaget, aku bergidik dan tanpa sengaja menjatuhkan ponselku. Rere berdiri, cengar-cengir sendiri melihatku melongo. Aku tahu dia tidak bermaksud membuatku sampai sekaget itu.
“Lagi istirahat. Jadi saya cari kamu. Pasti kamu bosen…”
Aku mengangguk jujur, kemudian memberi kode pada Rere untuk boleh menyelesaikan pembicaraanku dengan Bella. Rere mengangguk dan segera membantu untuk mengambil ponselku yang terlempar lumayan jauh. Buru-buru ia berikan padaku, sepertinya paham kalau orang di seberang telepon bisa saja panik karena aku tak memberi respon terlalu lama.
“Be, nanti gue telepon lagi. Lo kerja lagi aja…”
“Ok.”
“Bella, teman saya yang menelepon,” kataku. Entah untuk apa aku harus menjelaskan siapa yang meneleponku pada Rere. “Sorry ya, saya benar-benar mati gaya di dalam sana. Ngantuk.”
Rere tersenyum, “It’s okay. Malah saya yang jadi nggak enak hati sama kamu. Jadi membawa kamu dalam pencobaan.”
“Yehh, nggak segitunya juga kalii…”
Rere duduk di sebelahku dan merogoh sesuatu dari bagian dalam jas panjang abu-abu yang dikenakannya. “Mau roti, Je? Udah jam makan siang.”
Aku menerima rotinya lalu bertanya, “Kamu suka banget roti ya?”
“Makan roti jelas lebih mendingan daripada makan mie instant…”
“Nasihat dokter sekali ya…” kataku, lalu berusaha membuka bungkusan roti dari Rere. Herannya, bungkusan tersebut sulit sekali dibuka.
Tanpa ijin dulu dariku, Rere mengambil roti tersebut dan membuka bungkusnya. Aku hanya bisa melihat semua yang dilakukannya tanpa berbuat apa-apa, bingung juga harus merespon apa. Bukan hal yang biasa untukku menerima pertolongan dari seorang laki-laki, apalagi yang baru dikenal. Selama bersama Tyaga, memang lebih banyak aku yang membantu dan mengerjakan banyak hal untuk Tyaga. Bagiku, sudah kodratnya perempuan melayani laki-laki, menjadi asisten bagi mereka. Bukan berarti menjadi bawahan, tetapi selalu ada di sisi laki-laki yang dicintai.
“Jessela?”
Aku menoleh, tetapi butuh beberapa detik untuk menjawab panggilannya. “Mmh? Ya?”
“Sejak kapan tangan kamu begini? Tremor.”
Tremor?
Butuh sepersekian detik lagi untuk mengerti maksud dari pertanyaan Rere. Sampai laki-laki ini meraih lenganku dan menunjukkannya di depan wajahku. Tidak terlalu jelas, tetapi sungguh aku melihat ujung-ujung jemariku yang bergetar aneh. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?
“Saya baru tahu…” desahku. Aku seperti linglung.
“Kamu mau cerita sama saya, Jessela? Sebenarnya apa alasan kamu ke Yogya?”
Dan aku mulai berteriak pada Tuhan, walau hanya mampu kulakukan dalam hati. Keadaan macam apa lagi yang harus kuhadapi saat ini? Aku mungkin seseorang yang ekstrovert. Aku cukup verbal dalam mengungkapkan pendapatku, tetapi tidak untuk urusan hati. Bahkan kepada orang tuaku dan Bella, aku hanya membiarkan mereka menerka-nerka. Yahh, walaupun banyak dari terkaan mereka benar. Itu juga karena mereka terlalu mengenalku dengan baik.
Insecure. Mungkin itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan alasan mengapa aku hidup seperti ini. Perasaan takut disakiti dan dikecewakan membuatku seolah protektif berlebihan pada diriku sendiri. Menurutku, yang bisa menyelamatkan diriku sendiri adalah aku. Siapapun bisa melukai. Bukankah manusia di dunia ini pada hakikatnya diciptakan untuk bertahan dan bersaing? Maka dari itu, jangan mudah percaya pada orang lain.
Tyaga adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatku percaya. Ia adalah satu-satunya laki-laki yang sanggup membuatku bergantung dan berpengharapan. Kejujuran dan ketulusannya membuatku akhirnya mau membuka diriku. Bersama Tyaga, aku menjadi wanita yang belajar untuk menerima fakta, laki-laki diciptakan dengan bahu yang lebih lebar supaya wanita bisa bersandar dan tidak berusaha kuat sendiri.
Setelah itu Tuhan mengambil Tyaga. Meninggalkan aku yang jadi lemah dan seolah tak punya perlindungan. Tyaga pergi dan aku harus kembali membangun tembok perlindungan lagi. Aku seperti merangkak untuk bisa bangkit dan kuat seperti sebelum mengenal Tyaga. It's not easy. I wanna die everyday in my struggle. Aku tidak suka begini terus. Tembok itu harus tegak lagi secepatnya.
Dan tembok itu belum selesai dibangun, tapi Tuhan mempertemukanku dengan Rere. Apa maksudmu, Tuhanku? Engkau mau aku jadi lemah? Apa Kau tega melihat aku yang berdoa siang malam padaMu ini tersiksa terus menerus?

“Jessela…?”
"Hati saya hancur, Rere..."

December 28, 2017

Star Wars : The Last Jedi - Good Vs Bad


Akhir tahun 2017 ini ditutup dengan keren oleh Star Wars - The Last Jedi.

Gue bukan seorang penggemar Star Wars yang fanatik, tapi Star Wars belum pernah mengecewakan gue secara mendalam. Dua film terakhirnya, Force Awakens dan The Last Jedi kali ini sungguh bikin gue keluar dari bioskop dengan hati puas.

Melanjutkan dari film sebelumnya, Rey (Daisy Ridley) yang berhasil tiba di Acht-To dan bertemu dengan Luke Skywalker (Mark Hamill). Apakah kira-kira Master Luke mau menjadi mentor Rey agar dapat menjadi Jedi selanjutnya?

Sementara Rey berusaha mendapatkan pengajaran dari Luke, Jendral Leia Organa (Carrie Fisher) masih berperang melawan bersama The Rebellion melawan Supreme Leader Snoke, Sang Pemimpin dari First Order. Masih dibantu dengan Pilot Poe Dameron (Oscar Issac), ternyata usaha perlawanan mereka seperti ke arah jalan buntu.

Film ini tidak hanya menunjukkan bagaimana Rey, Si Jedi terakhir ini berusaha mendapatkan pengajaran dari Master Luke, tetapi juga menyorot hubungan antara Rey dan Kylo Ren (Adam Driver). Karena seperti di Force Awakens, Rey dan Kylo seperti memiliki relasi tertentu yang memungkinkan mereka berkomunikasi dan saling memahami satu sama lain.
Ini yang gue suka!


Star Wars berhasil menemukan cast yang pas untuk tokoh Kylo Ren dan Rey. Adam Driver bagus banget menunjukkan kepada kita, bagaimana complicated-nya seorang Ben Solo. Have strong power tapi emosional, childish, dan tanpa pemikiran yang matang.
Lepas dari sentimen pribadi gue karena doi dengan teganya membunuh ayahnya sendiri, Han Solo (my favorite Star Wars character all the time), Ben Solo adalah karakter yang menarik. Gimana ya? Doi nggak jelas gitu maunya apa.
Daisy Ridley, gue nggak yakin tokoh Rey bisa dimainkan dengan apik oleh aktris lain selain dia. Sebagai seorang perempuan, gue ngerasa proud nggak jelas gitu. Girls power terlihat jelas sekali di film Star Wars ini.

Gue gender banget ya? Hahahaha!


Lalu...
Hati gue agak gimanaa gitu ngelihat Carrie Fisher di Star Wars - The Last Jedi ini. Gimana nantinya keberadaan Princess Leia di film selanjutnya? Sedih gue...
Terus hati gue kembali hangat dan kemudian gue terharu melihat reuni Skywalker Siblings lagi di film ini. Beneran udah kayak roller coaster lah.


Sudah... sudah.. selesai ah sedihnya!
Balik lagi ngomong soal karakter di Star Wars kali ini, nggak cuma Adam Driver dan Daisy Ridley yang keren banget, beberapa karakter baru seperti Rose Tico (Kelly Marie), Laksamana Holdo (Laura Dern), dan si menyebalkan DJ (Benicio Del Toro) juga tampil memukau banget. Rose bakal berdampingan dengan Finn (John Boyega) dan BB-8.
Aaaahh! BB-8, Si droid imut milik Poe ini punya peran lumayan banyak di Star Wars kali ini.

Cumaaa... kali ini nggak cuma BB-8 yang imut.
Gue malah tertarik sama beberapa makhluk unik yang nampil di Star Wars - The Last Jedi ini. Seperti yang gue bilang, BB-8 punya saingan imut.

Ada Porg! Makhluk yang bentuknya kayak ayam kawin silang sama burung hantu, dengan mata yang besar macam tokoh anime dan badan yang bantet lucu.

Oh hi, Chewie!
Lalu ada Vulptex, rubah kristal yang cantik.

The Vulptex of Crait

Ada juga makhluk yang macam kuda, tapi mukanya mirip kambing sendu. Gue nggak tahu namanya. Dari hasil searching gue, ternyata makhluk itu bernama The Fathiers of Canto Bight. Susah yeh namanya??
(Source : http://www.latimes.com/entertainment/movies/la-et-mn-star-wars-the-last-jedi-porgs-caretakers-fathier-milk-20171228-htmlstory.html)

The Fathiers of Canto Bight
Nggak cuma itu, ada juga makhluk lucu pendek bantet bermuka mirip ikan. Namanya The Caretaker. Makhluk ini berpakaian mirip kayak biarawati ordo. Mereka merawat Luke dan Kuil Jedi yang ada di Acht-To. Kata Luke pada Rey, mereka ini penduduk asli pulau tersebut.
Seriusan, mereka cute dan entah mengapa sebel banget sama Rey.

The Caretakers
The Thala-Sirens

Terakhir, yang kali ini nggak ada lucu-lucunya kalau menurut gue.
Thala Sirens ini adalah makhluk raksasa aneh mirip-mirip kayak gajah laut, tapi versi yang lebih jelek. Makhluk ini nempel di pinggiran tebing pulau Acht-To, dan digambarkan setinggi 18 kaki. Di film, Master Luke diceritakan selalu memerah susu dari makhluk ini setiap hari.
Dan susunya warna ijo...!!


Above all, film berdurasi kurang lebih 2 jam setengah ini berhasil membawa penontonnya seolah ikut terlibat dalam kisah mereka. Serunya, emosinya, gue dapetin.
Jadi, from 5 stars, I give 4 stars.

So, buruan nonton deh!
Happy watching and May the Force be with you!

December 27, 2017

Jessela - Part 2 They Said, Life is About Moving On

2
They Said, Life is About Moving On

Picture Source : 6seconds.org

Aku bergidik sedikit saat hembusan angin dari pendingin ruangan menabrak permukaan tengkukku pagi itu. Bis yang kutumpangi melaju di pagi buta. Mataku bahkan masih terasa berat. Masih sekitar 8 jam lagi sebelum tiba di Yogyakarta.
“Udah sampe belum?” tanya Bella dari seberang telepon sana.
Aku menggeleng. Lupa kalau Bella tidak bisa melihat gerakan kepalaku itu karena kami bukan sedang ber-video call.  Iya, kadang aku bisa sebodoh itu.
“Masih sekitar 8 jam lagi,Be… Tadi bisnya mogok.”
“Hah? Mogok? Kok bisa?”
“Ya bisa lahh… namanya juga mesin!”
“Oohh…” sahut Bella, aku tahu dia tak punya kata-kata lain untuk didebat.
“Gue udah makan kok,Be… Makan roti sama minum susu. Udah minum obat anti mabok darat. Nanti kalau gue udah sampe, gue kabarin lagi ya,Be…” jelasku.
Bella bukan seorang sahabat yang romantis secara lisan. Dia mungkin terlihat ketus, dingin, dan kejam dari luar penampilannya, tetapi begitu mengenalnya, baru tahu bahwa sesungguhnya Bella adalah sahabat yang sangat pengertian dan penuh sayang.
“Ok deh. Hati-hati ya, Je…”
“Heemh,” lalu kututup pembicaraan kami dan memasukan ponselku ke dalam tas bahuku asal-asalan.
Pandanganku kembali kulempar pada pemandangan di luar kaca bis. Pepohonan yang berdiri tegak walaupun sepertinya angin di luar sana bolak balik menghembus kasar daun-daun dan rantingnya. Andai manusia bisa sekuat dan setegar pohon, tidak mudah tumbang walau diterjang penyakit apapun.
Ish! Lagi-lagi aku mendramatisir kehidupanku.
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu aku menghabiskan beberapa waktuku secara sia-sia, mempertanyakan mengapa manusia bisa meninggal dengan mudah? Mengapa penyakit bisa datang tiba-tiba lalu mengambil nyawa seseorang dalam hitungan hari? Mengapa orang baik meninggal begitu cepat, sedangkan orang jahat yang didoakan cepat mati malah nggak mati-mati?
Pertanyaan yang tak akan bisa kujawab sendiri.
Pertanyaan yang mempertanyakan hak prerogatif Tuhan.
Karena pada akhirnya, Tuhan adalah Tuhan. Siapalah kita manusia ini sehingga berhak mempertanyakan keputusannya? Siapalah kita manusia ini sehingga kita berhak marah atas segala yang sudah ditentukannya dalam hidup kita? Pada hakikatnya, kita datang ke dunia ini karenaNya, dan nantinya pun akan kembali lagi pulang menghadapNya. Hidup ini hanya perjalanan.
Semua pengertian itu terkadang masih belum cukup buatku untuk memahami, mengapa Tyaga meninggalkanku. Semua pengertian tadi masih belum sanggup menyembuhkan hatiku yang terluka karena ditinggalkan saat kami sedang saling cinta-cintanya. Romantisme manusia yang seringkali membuatku merasa durhaka pada Sang Pencipta.
Sorry, tasnya…”
Aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang kemungkinan usianya sepantaran denganku, atau mungkin lebih tua dariku sedikit, tersenyum sambil menoleh ke arah tas bahu yang kutaruh di kursi kosong di sebelahku. Kursi itu kosong sejak semalam, mungkin laki-laki ini pemiliknya. Baru aku menyadari kalau bis ini sudah berhenti di pool singgah.
“Oh, iya.. iya.. silahkan.”
“Tujuan ke Yogya juga?”
Aku tersenyum simpul menanggapi pertanyaan laki-laki ini. Aku tahu, niatnya mungkin hanya untuk ramah tamah. Pertanyaan retoris. Ke mana lagi kalau bukan Yogya? Semuanya juga tahu kalau tujuan akhir bis ini adalah ke Yogyakarta. Namun melihat penampilannya, laki-laki ini tidak ada tampang spesies buaya darat. Maka itu kusimpulkan, pertanyaan tadi hanya untuk memecah suasana.
“Iya.” Jawabku.
“Basi ya pertanyaannya?”
Aku pun tertawa kecil. Rupanya laki-laki ini juga merasa garing sendiri dengan pertanyaannya.
“Mungkin pertanyaan seharusnya adalah, sendirian aja ke Yogya nya?” kataku berusaha untuk bersikap ramah juga pada laki-laki ini.
“Kalau saya tanya begitu, bukannya malah terlihat seperti punya niat buruk?”
Are you?”
Otomatis lehernya langsung menggeleng seru, “Of course not!”
“Jessela,” kataku sambil mengulurkan tangan, “Menyebutkan nama terlebih dahulu, bukan berarti saya gampangan loh ya..”
“Rere,” katanya lalu menyambut uluran tanganku, “Nickname sih, aslinya Regan.”
“Ooo…” Cuma itu yang keluar dari mulutku. Vokal bulat satu itu memang paling cocok dipakai untuk mengatasi mati gaya karena tidak tahu harus merespon apa.
“Ke Yogya karena liburan?”
Aku menggeleng, “Nope. Ke Yogya karena lari.”
Rere mengernyit bingung. “You’re in the bus now. Not running…”
Aku praktis tertawa. Entah mengapa aku tertawa, otomatis keluar begitu saja. Terlalu mudah akrab dengan orang yang baru dikenal, seperti bukan aku.
“Kalau Rere? Ngapain ke Yogya? Liburan?”
Rere menggeleng, “Aku ada seminar.”
“Seminar?” tanyaku sekali lagi. “Seminar apa?”
Rere merogoh sesuatu dari dalam saku belakang celana jeans, mengambil sebuah dompet berwarna abu-abu kemudian membukanya. Dari salah satu sisi dalam dompetnya, Rere mengeluarkan sebuah kartu identitas yang dikeluarkan oleh salah satu rumah sakit swasta di Jakarta.
dr. Reganio Petra, Sp.BS
“Dokter?” tanyaku, sama tidak pentingnya dengan pertanyaan Rere soal Yogya tadi.
Rere mengangguk, “Nggak ada tampang dokter ya?”
“Sejujurnya, iya. Kamu terlihat terlalu muda untuk jadi seorang dokter dengan gelar spesialis.”
Sesaat timbul perasaan bersalahku pada almarhum Tyaga. Baru sekitar dua bulan sejak Tyaga pergi. Bahkan sekalipun aku belum sanggup pergi mengunjungi makamnya sejak terakhir aku terduduk menangis meraung di dekat nisannya. Sekarang aku sudah bicara akrab dengan laki-laki yang baru kukenal dalam hitungan menit di bis. Apakah pantas?
“Jessela?”
“Oh? Ya?”
“Bisnya udah jalan…”
Aku mengangguk pada Rere, tetapi pikiranku melayang pada potongan kejadian yang terjadi dua hari setelah hari pemakaman Tyaga. Pertanyaan yang berlari di depan mataku, di tengah goncangan kapal feri yang membawaku kembali dari kampung halaman Tyaga, tempat Tyaga dimakamkan.
Apakah aku bisa mencintai laki-laki lain 100% seperti yang sudah kulakukan pada Tyaga?
Banyak laki-laki baik di dunia ini, namun apakah ada laki-laki baik yang mau menerima perempuan yang hatinya patah dan remuk seperti milikku?
Aku seorang perempuan yang tak mudah jatuh hati. Tetapi sekali aku jatuh, aku jatuh begitu dalam. Tyaga sudah membuatku jatuh begitu dalamnya. Apakah masih ada laki-laki yang sudi menarik bangkit wanita yang jatuh karena laki-laki lain?
Apakah aku masih layak berharap bisa dicintai laki-laki lain?
Apakah masih bisa aku bermimpi mendapatkan laki-laki yang mencintaiku apa adanya tanpa tuntutan? Apakah bisa aku menemukan laki-laki itu?
Life is about moving on, Jessela…
Mendadak sebaris nasihat dari Bella terngiang. Move on? Bukannya tidak mau. Aku berusaha. Sungguh! Tetapi rasa takut ditinggalkan seperti menghalangi. Aku tidak mau patah hati berkali-kali. Rasa sakitnya sungguh keterlaluan, sampai aku berpikir, mati mungkin lebih baik.
“Mau roti, Je?”
Aku menoleh dan mendapati Rere menyodorkan sebuah kotak makan Tupperware warna hijau tua yang berisi potongan sandwich. Lembaran keju dengan potongan tomat berwarna merah dan suwiran daging yang menyembul di sisinya nampak menggoda. Pak dokter dan kotak makan Tupperware. Mendadak aku merasa itu imut.
“Kok malah ketawa, Je?”
Aku menggeleng pelan dan mengambil sepotong sandwich dari kotak makan Rere. “Nggak papa. Ngerasa lucu aja…”
“Selama di Yogya, rencana mau ke mana aja, Je?”
“Nggak tahu. Ikutin mood aja.”
“Loh? Kok begitu?”
“Memangnya kenapa?”
“Mau ikut ke seminar saya? Nggak usah kuatir masalah masuknya, saya pembicaranya kok.”


It’s gonna be a long trip…

December 26, 2017

Ayat-Ayat Cinta 2 - Menepis Kualitas Akting Demi Pesan Moral



Thanks to Ovo, gue jadi bisa dapat tiket murah nonton film ini. Hahaha! (Maafkan naluri wanita gue yang cinta banget sama promo...)

Namun tanpa promo pun sebenarnya gue sudah berniat nonton film ini. Ditambah lagi keberadaan Chelsea Islan dan Tatjana Saphira bikin gue tambah penasaran. Plus, gue suka nonton film yang mengambil setting di Eropa. Itu sih alasan receh gue.

So, tanggal 24 Desember kemarin, gue nonton film ini. Mungkin gue satu-satunya wanita non muslim dan tentunya tak berhijab sendiri yang ada di sana. Some people look at me with that weird expression. Well, gue nggak mau negative thinking. Terserah orang mau anggap apa, gue menonton film ini karena Ayat Ayat Cinta 1 meninggalkan kesan positif buat gue.

Ok, Ayat Ayat Cinta 2 dimulai dengan Fahri (Fedi Nuril) yang tak lagi seorang mahasiswa sederhana. Ia adalah seorang dosen Filologi yang mengajar di universitas ternama di Edinburgh. Bukan lagi anak seorang penjual tape (If I not make a mistake), melainkan juga seorang pengusaha yang memiliki jaringan minimarket di sana. But still, he's an angelic man.
Bedanya, tak ada Aisha di awal cerita. Karena Aisha diceritakan tak ada lagi kabarnya setelah menjadi relawan di jalur Gaza. Diceritakan juga Fahri tinggal bersama asisten pribadinya, Hulusi (Pandji Pragiwaksono) dan kemudian datang temannya Misbah (Arie Untung) yang menumpang di rumahnya. Kesedihan Fahri yang berusaha percaya bahwa , mungkin saja Aisha masih hidup, sedikit tertepis karena keberadaan Hulusi dan Misbah.

Source : Google.com

Walau seorang yang baik, sebagai seorang muslim, hidup Fahri tak lantas mudah. Tinggal di lingkungan dengan tetangga yang majemuk, Fahri seringkali mendapat tuduhan negatif. Contohnya, Keira (Chelsea Islan) dan adiknya, Jason yang kerap kali mengatainya sebagai monster dan teroris, lantaran ayah mereka tewas dalam insiden pemboman yang dilakukan oleh teroris di London. Lalu, nenek Catarina (Dewi Irawan), seorang wanita Yahudi yang sempat mencurigai Fahri dan Hulusi saat menolong Brenda (Nur Fazura) tetangga mereka yang pulang dalam keadaan mabuk. Tapi ya Fahri tetap Fahri, biarpun dituduh yang tidak-tidak, ia tetap baik.
Memang nggak masuk akal si Fahri ini...

Source : Google.com

Hidup Fahri berubah saat Hulya (Tatjana Saphira), keponakan Aisha, tiba-tiba datang dalam kehidupannya. Hulya yang cerdas, ceria, dan berkepribadian menyenangkan membuat Fahri menjadi seperti jungkir balik. Hulya yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Fahri membuat laki-laki itu merasa ragu. Hati kecil Fahri merasa kalau Aisha masih hidup. Menerima hati Hulya berarti membuatnya mengkhianati istrinya yang sangat dicintai itu.
Lalu datang Sabina (Dewi Sandra), seorang wanita sebatang kara dengan wajah yang rusak sebagian, yang ditampung Fahri dan membantunya mengurusi rumah tangga.

Stop here! Gue udah spoiler banyak.

Kalau ditanya tentang sisi islaminya, gue mungkin nggak tahu banyak. Tapi sebagai seorang non muslim yang sangat mencintai karya sastra - tak peduli karya sastra dari agama apa, Ayat-Ayat Cinta menunjukkan betapa Islam adalah agama yang penuh kasih. Tak beda jauh dengan agama lainnya, Islam mengajarkan kasih itu tidak hanya sekadar dibaca dan dipahami, tapi dilakukan. Hal tersebut yang dilakukan oleh Fahri. Gue sampai bertanya sendiri, Si Fahri ini nabi apa gimana? Angelic banget deh perilakunya. Nggak masuk akal dan nggak heran juga semua wanita pingin dinikahin dia...

Secara kualitas akting, nggak terlalu wah. Fedi Nuril tetap berakting gitu-gitu aja. Emosi yang ditampilkan Chelsea Islan pun belum mampu mendongkrak. Justru Tatjana Saphira yang menurut gue bagus banget aktingnya. Dengan pemain yang mumpuni dan punya nama seperti itu, gue bilang film ini biasa aja kalau ngomongin soal kualitas akting.
Romantisme berlebihan yang nggak masuk akal masih menjadi ciri khas film ini. Sayangnya pula, twist yang disediakan sudah bisa gue tebak di tengah cerita. Entah ini salah pembuat filmnya, atau gue yang kelewat sensitif, entahlah. Tokoh yang harusnya menjadi kunci, gagal membuat gue berkata, 'Ya ampunn! Ternyataa...'


Source : Google.com

Namun pesan moral yang disampaikan di film ini, mampu membuat gue menitikan air mata berkali-kali. Di tengah situasi politik negara yang sensitif banget sama isu agama dan ras, Ayat-Ayat Cinta 2 menunjukkan bahwa Islam adalah agama cinta. Ayat-Ayat Cinta 2 menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang mengasihi sesama tanpa membedakan agama, ras, dan suku. Dapat dilihat dari bagaimana Fahri menolong Nenek Catarina yang seorang Yahudi, menolong Keira dan Jason yang seolah ketakutan dengan muslim, dan ketika Fahri membela Sabina yang dikata-katai oleh sekumpulan orang yang mengusir wanita itu karena dianggap pengemis.

Source : Google.com

From 5 stars, I give this movie 3 stars.

Kalau mau cari kualitas akting dan cerita yang out of expected, anda akan kecewa dengan film ini. Tapi kalau mau cari film super romantis dengan pemandangan indah dengan bertabur pesan moral, film ini worth it buat ditonton.

Happy watching...

"Yang pantas dicintai adalah cinta itu sendiri dan yang pantas dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri"
 - Fahri Abdullah Sidiq (Ayat-Ayat Cinta 2)